Mahasiswa Kukerta UNRI Pancur Jaya Taja Pelatihan Pembuatan dan Sosialisasi Peningkatan Ekonomi dari Pestisida Nabati

0
38

BENGKALIS -(auranews.id)- Dewasa ini penggunaan pestisida kimia seolah menjadi cara pertama yang dilakukan untuk mengendalikan Organisme Pengganggu Tanaman ( OPT ) yang menyerang.

Pestisida jenis ini banyak digunakan karena mempunyai kelebihan dapat diaplikasikan dengan mudah dan hasilnya dapat dirasakan dalam waktu yang relative singkat serta diaplikasilkan dalam kawasan yang luas.

Namun, penggunaan pestisida kimia dalam jangka waktu yang lama dapat memberikan dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan manusia.

Pestisida kimia yang digunakan dalam jangka panjang dengan dosis yang banyak dapat berbahaya bagi kesehatan manusia dikarenakan pestisida bersifat polutan dan menyebarkan radikal bebas sehingga dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh seperti mutasi gen dan gangguan syaraf pusat.

Residu kimia yang bersifat racun dapat menempel pada produk pertanian dan jika dikonsumsi bisa memicu kerusakan sel, penuaan dini dan munculnya penyakit degeneratif.

Bagi petani sendiri akan sangat berbahaya jika menggunakan pestisida kimia tanpa menggunakan prosedur keamanan yang tepat.

Paparan bahan kimia dapat menurunkan kualitas kesehatan mereka secara langsung. Hal ini juga berlaku bagi hewan yang mungkin tak sengaja memakan rumput atau tanaman yang tersemprot pestisida kimia.

Penggunaan pestisida kimia juga dapat menyebabkan resistensi OPT ( Organisme Pengganggu Tanaman ), resistensi adalah sifat kebal terhadap bahan tertentu yang diperoleh OPT dari kemampuan adaptasi dan evolusi untuk mempertahankan hidup dari paparan zat kimia.

Resistensi hanya terjadi pada penggunaan pestisida kimia saja dan tidak terjadi pada penggunaan pestisida organik. Itulah sebabnya mengapa kini petani semakin sulit untuk mengatasi OPT.

Padahal, mereka sudah menggunakan pestisida kimia yang sama dengan yang dianjurkan petani lain.

Selain itu, penggunaan pestisida berlebihan dapat menyebabkan tanaman rusak dan membuat pertumbuhan tanaman menjadi tidak normal. Kondisi seperti kerdil, bercak pada daun,buah banyak yang rusak dan juga adanya perubahan warna pada daun yang tidak hanya disebabkan oleh kurangnya nutrisi pada tanaman tersebut tetapi bisa juga disebabkan karena penggunaan pestisida yang berlebihan.

Kemudian, bahan kimia hampir tidak akan terurai dalam tanah ataupun air. Bahan kimia yang terserap tanaman dan sisa tanaman yang diuraikan oleh mikroba tanah pun masih akan meninggalkan sisa zat kimia dalam tanah.

Lama-kelamaan zat kimia tersebut akan mengurangi kesuburan tanah karena membunuh mikroorganisme bermanfaat serta menghalangi penguraian unsur hara dalam tanah. Hal-hal tersebut bisa menimbulkan efek berantai berkepanjangan.

Untuk itu, pestisida nabati lebih dianjurkan, oleh karena itu, Tim Kuliah Kerja Nyata ( KUKERTA ) Tematik Revolusi Mental Universitas Riau menyelenggarakan Pelatihan Pembuatan dan Sosialisasi Peningkatan Ekonomi dari Pestisida Nabati di Balai Pertemuan Desa Pancur jaya, Kecamatan Rupat, Sabtu (3/8/2019).

Kegiatan yang bertujuan membangun karakter bangsa dengan mengubah cara pikir, pandang dan perilaku masyarakat untuk dapat beralih menggunakan pestisida nabati dan bisa meningkatkan kesejahteraan petani Desa Pancur Jaya melalui peningkatan produktifitas para petani terhadap tanaman dan penjualan produk dari pestisida nabati.

Pada penyelenggaraan program pelatihan dan sosialisasi ini terdapat 2 sesi, pemaparan materi pada sesi pertama disampaikan oleh Ibu Dr.Sri Endang Kornita,SE,.M.Si selaku Koordinator wilayah Kuliah Kerja Nyata ( KUKERTA ) kecamatan Rupat.

Beliau menjelaskan tentang gerakan nasional revolusi mental dan peningkatan ekonomi dari pestisida nabati.

Menurut Ibu Sri, Peningkatan kesejahteraan keluarga melalui pendapatan Ibu Rumah tangga dalam memanfaatkan lahan pekarangan dengan tanaman hortikultura sistim vertikultur serta memproduksi pestisida nabati, dapat memperoleh keuntungan ekonomi.

Peningkatan kesejahteraan ekonomi tersebut dianalisis melalui teknik pemasaran dan komoditas yang digunakan dalam memproduksi pestisida nabati.dan dengan analisis tersebut diperoleh pendapatan dari hasil produksi yang jauh lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan untuk memproduksinya.

Kemudian, materi pada sesi kedua disampaikan oleh anggota tim Kuliah Kerja Nyata ( KUKERTA ) Tematik Revolusi Mental  Universitas Riau yaitu Rischa Nurul Alfath Syam.

Di sesi kedua, Rischa memberikan informasi seputar pestisida nabati dan melaksanakan demonstrasi instrumen pembuatan pestisida nabati.

Bahan yang dipilih untuk dipergunakan dalam pembuatan pestisida nabati adalah daun pepaya. Selain daun pepaya mudah diperoleh disekitar lingkungan,daun pepaya juga berpotensial sebagai pestisida nabati efektif mengendalikan hama ulat, pengisap, aphids, rayap, dan ulat bulu.

Daun pepaya mengandung enzim papain, alkaloid, dan glikosid. Komponen paling aktif dari getah pepaya adalah khimopapain. Residu yang dihasilkan pestisida nabati dari daun pepaya ini lebih mudah terurai ( biodegradable ) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan.

Pestisida ini juga relative aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena residunya mudah hilang.

Berikut cara pembuatan pestisida nabati dari daun pepaya :

Mengumpulkan kurang lebih 1 kg daun pepaya (sekitar 1 tas plastik besar/ 1 ember besar).

Dikering anginkan
Menumbuk daun pepaya hingga halus.
Hasil tumbukan,direndam di  dalam 10 liter air kemudian ditambahkan 2 sendok makan minyak tanah dan 30 gr detergen.

Hasil campuran, didiamkan semalam.
Siap di gunakan sebagai pestisida nabati

Selama pelaksanaan program pelatihan dan sosialisasi tersebut berlangsung, petani Desa Pancur Jaya sangat semangat dan mempunyai antusias yang tinggi saat para pemateri menjelaskan.

Lalu, tindak lanjut yang diharapkan kepada seluruh petani Desa Pancur Jaya adalah agar para petani dapat menjadi petani yang memiliki kemandirian untuk menciptakan kreativitas dari bahan yang terdapat di Desa Pancur jaya dan dengan begitu dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi petani Desa Pancur Jaya. (Rls)