Kelompok Bahan Makanan dan Jasa Transportasi Jadi Penyumbang Inflasi Terbesar di Riau

0
79

PEKANBARU – (auranews.id).- Provinsi Riau mengalami inflasi sebesar 0,68 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 137,95 pada bulan Mei 2019. Inflasi Tahun Kalender sebesar 0,92 persen, dan Inflasi Year on Year (Mei 2019 terhadap Mei 2018) sebesar 2,31 persen.

Hal ini diungkapkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau, Aden Gultom kepada aura-News.id Selasa, (11/06/2/19).

Aden Gultom  mengatakan, kota yang mengalami inflasi, yakni Pekanbaru sebesar 0,56 persen, Dumai sebesar 1,05 persen dan Tembilahan sebesar 1,29 persen.

“Inflasi Riau pada bulan Mei 2019 sebesar 0,68 persen terjadi karena adanya kenaikan indeks harga konsumen yang cukup signifikan pada kelompok bahan makanan,  transportasi, komunikasi, jasa keuangan, sandang, makanan jadi, minuman, rokok, tembakau, perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar,” ujarnya.

Ia merincikan bahwa kelompok bahan makanan yang mengalami inflasi sebesar 2,13 persen, diikuti kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,64 persen, kelompok sandang sebesar 0,45 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,16 persen dan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,02 persen.

“Komoditas yang memberikan andil terjadinya inflasi di Riau antara lain cabai merah, kentang, bawang putih, angkutan udara, angkutan antar kota, pepaya, jeruk, petai, ikan mujair dan lain-lain,” rinci Aden Gultom.

Sedangkan dua kelompok lainnya mengalami deflasi, yaitu kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar -0,06 persen dan kelompok kesehatan sebesar -0,02 persen.

“Komoditas yang memberi andil deflasi antara lain daging sapi, bawang merah, ikan tongkol, beras, tomat sayur, tomat buah, televisi berwarna dan lain-lain,” ujarnya.

NTP Riau Naik 0,05 Persen

Sementara untuk  Nilai Tukar Petani (NTP) di Provinsi Riau dibulan Mei 2019 sebesar 95,76 atau naik sebesar 0,05 persen dibanding NTP April 2019 sebesar 95,70.

Kenaikan NTP ini  menurut Aden Gultom disebabkan oleh kenaikan indeks harga yang diterima petani yaitu sebesar 1,19 persen relatif lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 1,14 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

“Jika dilihat dari data yang ada, NTP Mei 2019 sebesar 95,76 ini dapat diartikan bahwa petani secara umum mengalami defisit,” katanya.

Ia menerangkan, bahwa defisit ini terutama terjadi pada petani subsektor hortikultura atau NTPH sebesar 98,00, subsektor peternakan atau NTPT sebesar 96,12, subsektor tanaman perkebunan rakyat atau NTPR sebesar 92,83.

Sementara itu, subsektor yang mengalami surplus adalah subsektor perikanan atau NTNP sebesar 112,36 dan subsektor tanaman pangan atau NTPP sebesar 100,99.

“Kenaikan NTP di Riau pada bulan Mei 2019 terjadi pada tiga dari lima subsektor penyusun NTP, yaitu subsektor peternakan naik sebesar 1,60 persen, subsektor hortikultura naik sebesar 1,19 persen, dan subsektor perikanan naik sebesar 0,63 persen,” terangnya.

Untuk diketahui, bahwa pada Mei 2019, ada 3 dari 10 Provinsi di Pulau Sumatera mengalami kenaikan NTP yaitu Provinsi Riau, Provinsi Jambi, dan Provinsi Kepulauan Riau. Jika dibandingkan dengan NTP Provinsi lain di Pulau Sumatera, Riau menduduki peringkat ke-5, di bawah Provinsi Lampung, Provinsi Jambi, Provinsi Kepulauan Riau, dan Provinsi Sumatera Utara. (Ferry Anthony)