Selesaikan Lahan Plasma Bermasalah, Ketua DPRD Kampar Jemput Data Ke Baber

0
233

BATU BERSURAT (auranews.id) – Tak ingin persoalan perampasan lahan plasma masyarakat Batu Bersurat berlarut, Ketua DPRD Kabupaten Kampar, Ahmad Fikri S. Ag lansung turun ke Kelurahan Batu Bersurat, Kecamatan XIII Koto Kampar untuk menjemput data dan meminta keterangan dari pihak kelurahan, Jumat (1/3/2019) siang.

Di rumah makan asam pode baung Rudi jalan Raya Candi Muaratakus, Fikri minta kepada masyarakat untuk dapat hearing pada hari Senin yang akan datang.

Kedatangan kelompok tani dan pihak pemerintahan juga diminta untuk membawa semua dokumen kepemilikan lahan plasma. “Nanti kita hearing senin, tolong bawak semua dokumen nya serta MoU dengan mitra kerja masyarakat,” kata Fikri.

Politisi partai Golkar itu juga menghimbau kepada masyarakat agar untuk tidak mengambil tindakan terlebih dahulu, sebab pihak pemerintahan sedang berupaya untuk menyelesaikannya.

“Jadi kita jangan mengambil tindakan dulu, insya allah pasti selesai, karena inikan sudah pasti milik masyarakat, berbeda dengan persoalan di Tapung sana,” tegasnya lagi.

Sekedar diketahui, pada Senin pekan lalu, Ratusan masyarakat kelurahan Batu Bersurat, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar juga sudah mendatangi kantor DPRD dan bupati Kampar. Masyarakat juga menggelar konvoi dari kampung menuju kediaman pucuk adat setempat datuok Kholifa alias Kholif di Bangkinang untuk mengantarkan bibit sawit yang telah dicabut oleh pihak PT SATU di lahan plasma masyarakat.

Lima bibit batang sawit yang diantarkan oleh masyarakat sebagai bentuk kekecewaan warga terhadap kholifa selaku petinggi adat yang diduga telah menjual lahan plasma ganti rugi dari pemerintah akibat waduk PLTA Koto Panjang.

Dari pantauan auranews.id, warga membawa puluhan batang pohon sawit dengan dua mobil bak terbuka. Batang sawit yang berusia sekitar dua tahun ini dititipkan selain dari rumah Kholif juga ke Kantor DPRD Kampar dan kantor bupati Kampar pagi tadi.

Mereka menjadikan batang sawit ini sebagai bukti untuk mengadukan nasib lahan plasma mereka kepada Ketua DPRD Kampar Ahmad Fikri. Ratusan batang sawit mereka dicabut oleh PT Sumatra Agro Tunas Utama (SATU) setiap harinya.

Perwakilan warga M Rasyid menjelaskan, kebun sawit mereka yang mulai dicabut itu merupakan milik 522 Kepala Keluarga (KK) di lahan 725 dari totak 1044 ha lahan milik warga. Data ini merupakan hasil pendataan pada 2000, hak warga Batu Bersurat dari ganti rugi PLTA.

Ada lebih banyak lagi yang bergelimpangan di kebun plasma kami, banyak juga yang sudah kering daunnya. Ini yang kami bawa yang terbaru yang mereka cabut, Ahad (24/1) kemarin.

Penulis: Defrizal