Alfajri: SSB MU Junior Untuk Mendukung Kemajuan Sepakbola di Kampar

0
477
Foto bersama pemain, pelatih dan manajemen SSB MU Junior

BANGKINANG KOTA (auranews.id) – Sepakbola adalah olahraga yang merupakan salah satu bagian dari pendidikan karakter siswa. Untuk itu, murid-murid yang memiliki bakat dalam sepakbola harus didorong dan dikembangkan agar berprestasi.

Atas dasar itulah, Alfajri, pengusaha Kampar membentuk sebuah sekolah sepakbola (SSB) Muara Uwai (MU) Junior di kampung halamannya Desa Muara Uwai, Kecamatan Bangkinang, Kabupaten Kampar. Al sapaan akrabnya menuturkan, awal mula dibentuknya SSB MU Junior dikarenakan ada dorongan untuk menjauhkan generasi penerus bangsa dari Narkoba.

“Berawal dari duduk di kedai kopi, lalu ada tujuan yang sama dengan masyarakat, maka dibentuklah SSB MU Junior ini. Semua karena adanya dorongan dari saya dan masyarakat untuk menjauhi generasi muda yang tergerus oleh Narkotika,” ucap pria yang humoris ini kepada auranews.id, di Bangkinang, Rabu (6/2/2019).

Selain itu, menurut Al, selama ini SSB sebagai kawah candradimuka para pemain sepak bola belia, nyaris tidak ada yang memperhatikan. Padahal, SSB harus dikelola secara serius. Mengingat, di sekolah olahraga nonformal inilah awal kualitas skill pemain sepak bola ditentukan.

“Kalau salah membina di waktu usia dini, talenta yang dimiliki anak-anak ke depannya tidak akan berkembang sebagaimana yang diharapkan,” kata Manajer yang juga selaku pemilik SSB Junior ini.

Bahkan menurut Al, skill dasar yang dimiliki anak-anak bisa rusak kalau cara melatih pada masa usia dini tidak benar. Karena itu, dirinya merasa terpanggil untuk turut membenahi pengelolaan sekolah sepak bola di Kampar.

Manajer SSB MU Junior, Alfajri memberikan arahan kepada anak-anak, agar lebih bersemangat dalam latihan

Lebih jauh, saudara kandung pemilik PT lutvindo Amir Luthfi, itu mengatakan, selain dikelola oleh manajemen profesional, SSB juga harus menggunakan kurikulum pelatihan yang baik. Karena itu, target pertama pendirian MU Junior akan memprioritaskan dua hal. Pembenahan manajemen dan pembuatan kurikulum dasar bagi SSB yang didirikannya.

“Yang namanya sekolah, sekalipun itu sifatnya nonformal, tentu harus memiliki kurikulum yang standar sesuai yang direkomendasikan PSSI,” lanjutnya.

Lebih lanjut, pendirian SSB diprogramkan melakukan uji tanding keluar daerah Kampar. Karena menurutnya, anak-anak harus diberikan ilmu dan kemampuan mental yang baik.

“Sekali sebulan kami akan lakukan uji tanding ke daerah lain. Insyaallah 3 Maret nanti kami akan beruji tanding dengan SSB di Sumatera Barat,” ujarnya.

Sebagai Manajer MU Junior, Al melanjutkan, selain anak-anak berasal dari desa muara Uwai, anak-anak tersebut juga berasal dari Sungai jernih, Bangkinang kota dan daerah sekitarnya. Untuk latihan, SSB ini melaksanakannya secara rutin pada hari Rabu, Jumat dan Ahad.

“Untuk dapat menjadi bagian dari MU Junior ini, kami hanya memungut biaya pendaftaran sebesar Rp 85 ribu, itu termasuk kostum bolanya. Kita juga melakukan latihan 3 kali dalam seminggu, Rabu, Jumat dan Ahad,” ungkap pria yang murah senyum ini.

Para murid digembleng sejumlah latihan fisik

Ayah satu orang putri ini menambahkan, SSB yang didirikannya bukan untuk mencari keuntungan bisnis maupun keuntungan lainnya.

“SSB ini pure (murni) dari hati nurani saya, Buya Gafar dan rekan-rekan untuk membantu mengembangkan bakat-bakat anak-anak untuk berprestasi. Kita harus memberikan kesempatan, mereka punya bakat, tapi mereka belum terasah, terarah dan terfasilitasi. Uang pribadi saya gunakan untuk memperbaiki stadion ini, semuanya kita perbaiki dan kita cat. Ini semua saya lakukan demi membantu memajukan kampung halaman. Kalau bukan kita, siapa lagi?,” terangnya.

Disamping itu, SSB MU Junior ini bertekad untuk mencetak bakat-bakat muda yang berprestasi. Sehingga menjadi pemain yang profesional di Kampar. Sebab, sepakbola Kampar saat ini bisa dikatakan mati suri.

“Kami ingin sekali membangkitkan dan memajukan persepakbolaan di Kampar. Kalau dilihat dari sisi talenta, sejak dulu Kabupaten Kampar tidak pernah absen dalam memberikan kontribusi pemain berbakat bagi persepakbolaan. Banyak bakat-bakat muda kita yang telah sampai ke luar negeri karena berprestasi dalam sepakbola. Kami targetkan di tahun ini, ketika ada kompetisi, akan kami juarai dan membawa pulang piala tersebut, sebagai tolok ukur keberhasilan SSB ini,” paparnya.

Disamping itu, demi membentuk karakter anak muda yang berakhlak, manajemen MU Junior mewajibkan muridnya untuk mengikuti pengajian di setiap Sabtu malam.

“Kita wajibkan anak-anak untuk mengikuti pengajian, 2 kali sebulan, agar mereka berakhlak, beragama. Kami percaya usia dini merupakan usia yang masih dapat dilakukan pembinaan secara berkelanjutan, sehingga akan melahirkan pesepakbola profesional, berilmu yang dapat membawa harum nama bangsa dikemudian hari,” ungkapnya.

Anak-anak diberikan latihan tehnik dan skill

Selain itu, guna meningkatkan fisik para muridnya, manajemen bahkan rutin melakukan latihan renang.

“Latihan renang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan fisik anak-anak. Kita akan manfaatkan kolam renang di Batalyon Infanteri 132/BS,” tutup Direktur Anak Negeri Sukses (ANS) ini.

Pengurus yang juga penggagas SSB MU Junior:
1. Pembina, Ketua KONI Kampar, Ir Abdul Gafar, MM
2. Manajer, Alfajri
3. Head coach, M Kamil, SE
4. Sekretaris, Kojex
5. Bendahara, Oren Gompo

Berdasarkan data yang auranews.id, peroleh, saat ini sudah sekitar 60 orang anak-anak yang telah mendaftar menjadi bagian SSB MU Junior. Mereka dilatih oleh sekitar 10 orang pelatih secara profesional, agar bisa menjadi bintang sepakbola yang mengharumkan Kampar di Kancah nasional bahkan dunia.

Dengan dibentuknya SSB seperti ini, diharapkan juga peran pemerintah untuk membantu memajukan persepakbolaan di Kampar. Begitu juga halnya dengan PSSI, agar dibuatkan kompetisi dengan menata sistem kompetisi sepak bola usia dini.

Sebab, hasil latihan di SSB baru akan terukur melalui ajang kompetisi. Diharapkan, ke depan, pengelolaan kompetisi sepak bola usia dini di Kabupaten Kampar bisa dijalankan secara profesional, berkelanjutan, dan konsisten.

Penulis: Fauzi Lalea Saputra