Yeni Karyati Janda Miskin Tinggal di Rumah Tak Bertoilet, Dengan Kondisi Tak Berdaya

0
Yeni Kartika (48) warga RT 005, RW 004, Kelurahan Langgini, Kecamatan Bangkinang Kota hanya bisa terbaring lesu. (FLS/auranews.id)

BANGKINANG KOTA (auranews.id) – Potret kehidupan yang mengiris hati di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, kembali terlihat di tengah sibuknya para kandidat calon legislatif dan calon Presiden yang mengkampanyekan program yang konon untuk kesejahteraan rakyat.

Kesejahteraan seperti apa yang mereka janjikan? Ya, nasib malang tersebut dialami Yeni Karyati (48) warga RT 005, RW 004, Kelurahan Langgini, Kecamatan Bangkinang Kota, yang harus pasrah dengan kondisinya yang tak berdaya akibat penyakit yang dideritanya selama bertahun-tahun.

Tinggal di Ibu Kota Kabupaten Kampar, ternyata tidak menjamin dan tidak seindah kehidupan warga selayaknya. Yeni, puluhan tahun tinggal didalam rumah yang tidak memiliki fasilitas kamar mandi (toilet), bahkan kamar tidur.

Yeni kini terbaring sakit. Janda miskin ini memiliki 3 orang anak. Anak pertamanya bernama Dwi Johari Riski (28) juga dalam keadaan sakit dan tidak bekerja. 2 anaknya lagi masih bersekolah.

Selama kurang lebih 10 tahun, ia hanya menghabiskan hari-harinya di tempat tidur di sebuah rumah yang bisa dikatakan tidak layak huni.

Kepada auranews.id, Kamis (10/01/2019) Dwi, anak sulungnya berbagi duka keluarganya. Dirinya menceritakan, bahwa selama ini mereka memanfaatkan toilet Masjid Al-Hidayah, Panca Losuong, Jalan Agussalim, Bangkinang Kota, sebagai tempat mandi.

“Selama ini, kami kalau mau mandi dan buang air harus ke mesjid depan rumah dulu,” papar Dwi kepada auranews.id, Kamis (10/1/2019).

Kondisi Loteng rumah Yeni

Keadaan tersebut diperparah dengan kondisi ibunya (Yeni, red), yang terbaring sakit tidak bisa di papah ke Mesjid.

Dwi mengatakan sudah puluhan tahun ibunya mengidap penyakit gula (Diabetes). Namun enam bulan belakangan ini sakit ibunya semakin memburuk.

Pasca dirawat di RSUD Bangkinang enam bulan yang lalu, Yeni atau kerap di sapa “Gadi Gopuok” itu tidak bisa berdiri lagi. Bahkan untuk duduk saja kepalanya terasa pusing. Untuk membuang air, Yeni menggunakan pampers. Dalam satu hari, Yeni biasa nya menggunakan 3 pack pampers dan menghabiskan biaya Rp150.000/hari.

Dengan keadaan seorang pengangguran, Dwi mengaku sangat kesulitan mencari biaya untuk keperluan ibunya. Pria yang hanya tamatan Sekolah Menengah Pertama (SMP) itu tidak memiliki pekerja setelah berhenti bekerja dari petugas kantor Desa di Danau. Keputusannya untuk berhenti bekerja karena ingin lebih dekat dengan ibunya dan bisa merawatnya.

Kini, Dwi kebingungan untuk mencari pekerjaan baru. Terlebih dengan kondisinya yang tidak sehat. Sejak lahir dia mengalami masalah kebocoran jantung. Jika Dwi bekerja terlalu berat, maka akan mengancam nyawanya. Hal ini mengakibatkan dirinya tak bisa menjadi penopang perekonomian keluarga. Sedangkan 2 lainnya masih bersekolah.

Padahal Dwi adalah anak laki-laki pertama yang bertanggung jawab menjadi tulang punggung keluarga, namun keadaan membuatnya tak bisa menjadi kepala keluarga, sepeninggal ayahnya.

Sebagai anak sulung sekaligus tulang punggung keluarga setelah kematiannya Ayahnya 10 tahun yang lalu, Dwi terus berjuang untuk ibu dan dua adiknya Onisa Apriyanti dan Neli Agustin.

Dirumah Yeni, kamar bersatu dengan dapur

Untuk menyambung hidup sehari-hari, kata Dwi, ia hanya mengandalkan bantuan keluarga sebelah rumah dan uluran tangan dari orang-orang yang peduli terhadap kondisi Ibu dan dirinya.

“Hanya bantuan dari donasi dan orang-orang yang peduli terhadap kondisi orang tua kami, setiap hari kita harus beli popok karena beliau tidak bisa berjalan. Apa lagi bangun untuk membuang hajat,” ungkapnya.

Dwi juga mengungkapkan, selama ini tidak mendapatkan perhatian khusus berupa bantuan Pemerintah, kecuali bantuan yang diperoleh dari BAZNAS beberapa bulan yang lalu.

“Ibu saya sudah lama sakit gula dan jantung. Dokter bilang ibu juga stroke ringan. Matanya sekarang kurang jelas, efek sakit gula. Dan kini ibu sudah mulai agak pikun. Dulu sewaktu ibu masih sehat, dia pernah berharap agar rumah kami bisa dibedah. Rumah kami memiliki kamar mandi dan kamar tidur. Dan saya seorang pengangguran, saya tidak bisa kerja berat karena saya mengalami masalah kebocoran jantung,” terang Dwi sembari menahan air mata.

Hati samakin terenyuh ketika auranews.id menelusuri masuk kedalam rumah semi permanen milik Yeni. Atap dan loteng terlihat rusak parah. Ketika hujan turun, rumah yang seharusnya menjadi tempat berteduh tidak lagi bisa diandalkan.

“Sampai saat ini belum ada bantuan apapun dari pemerintah. Termasuk bedah rumah dan bantuan program keluarga harapan untuk meringankan beban orang tua kami,” jelasnya.

Dwi mengaku sudah berusaha untuk mengajukan bantuan rumah layak huni kepada Pemkab Kampar. Namun sampai saat ini belum di indahkan.

Kondisi rumah tak layak untuk di huni lagi.

“Pada tahun 2017 yang lalu, saya sudah mengurus rumah layak huni, namun sampai detik ini belum ada kabar kejelasanya seperti apa. Saat ini, saya fokus untuk memikirkan bagaimana cara untuk mencari uang untuk keperluan ibu dan adik saya. Saya juga berharap uluran tangan Pemda untuk membantu kami,” harap Dwi.

Kini mereka hanya bisa berharap, agar ada perhatian dari Pemerintah, baik Swasta maupun yang lainnya. Masih adakah hati nurani kita sebagai manusia? Mari tunjukkan dan bantu saudara kita yang membutuhkan.

Penulis: Dewi Sartika

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here