Kampar Naik Kelas, Apanya Yang Naik ?

0

BANGKINANG KOTA (auranews.id)– Hashtag Kampar Naik Kelas yang didengung-dengungkan di Kabupaten Kampar rezim kepememimpinan Azis Zaenal-Catur Sugeng Susanto mendapat tanggapan dari berbagai pihak salah satunya Ketua DPRD Kabupaten Kampar, Ahmad Fikri, S.Ag.

Menurutnya, belum ada perubahan yang signifikan terhadap kemajuan Kabupaten Kampar baik dari segi pembangunan maupun dari segi ekonomi masyarakat.

Dia menilai, belum pantas adanya Hashtag Kampar Naik Kelas. Sebab, keadaan ekonomi masyarakat masih terbilang belum ada perubahan dari kepemimpinan sebelumnya.

“Kampar Naik Kelas ? Apanya yang Naik Kelas ?,” ujar Ahmad Fikri, Kamis (15/11/2018).

Dijelaskan Fikri, Kampar Naik Kelas itu baru cocok ketika pada rezim saat ini banyak kemajuan dibandingkan kepemimpinan Bupati terdahulu.

“Yang sekarang, barang yang ada menjadi tidak ada, apakah itu yang naik kelas ?,” canda Onga Fikri.

Contohnya, kata Onga Fikri, honor PDTA dikurangi bukan ditambah, insentif Ninik Mamak dulu ada sekarang tidak ada, janjinya dulu menambah lapangan kerja, nyatanya masih banyak yang nganggur ditambah lagi kontraktor menjerit.

“Seharusnya pekerjaaan ada 10 jangan dibuat menjadi 1. Tapi, pekerjaan 1 dipecah menjadi 10 biar semua kontraktor ada kerjaaan. Banyak Kontraktor menjerit, sebab pekerjaan sekarang banyak ke aspal dan hotmix. Pekerjaaan ini orang tertentu saja yang melakukan. Katanya defisit, kok bangun gedung 8 lantai ?,” ketus Onga Fikri.

Sementara itu, salah seorang tokoh muda Kampar yang juga relawan Laskar Muda ACU (Azis-Catur), Isthu Swandana merasa malu akan Hashtag ini. Sejauh ini, ia melihat belum adanya kebijakan pemerintah daerah yang pro rakyat terkait ekonomi masyarakat.

“Coba sampaikan sama saya, sebutkan apa yang naik kelas ? satu contoh saja jadilah ?,” tantang Isthu.

Dikatakannya, kalau masalah pembangunan jalan dan jembatan, siapapun Bupatinya tetap akan ada membangun hal tersebut.

“Itu hal yang lumrah untuk pembangunan dan itupun saat ini masih banyak daerah yang terisolir,” ujar Isthu.

Sekarang begini saja, kata Isthu, kita perhatikan bagaimana putaran ekonomi di Pasar Bangkinang.

“Dulu disaat kampanye berjanji akan menaikkan harga karet dan sawit, nyatanya sampai hari ini masyarakat masih menjerit dan ini tentunya sangat berpengaruh besar terhadap putaran ekonomi di pasar. Katanya, dulu Pasar Bangkinang akan diperbaiki, nyatanya ?,” jelas Isthu.

“Ekonomi kreatif di Dinas Pariwisata pun tidak jalan ? bagaimana ekonomi masyarakat mau naik?,” tanya Isthu.

Menanggapi Kampar Naik Kelas ini, salah seorang masyarakat yang bertungkus lumus Menyadap Karet, Zuhril hanya bisa tertawa besar.

“Nggak usahlah banyak cerita, sekarang masyarakat hanya butuh bukti. Dulu berjanji akan menaikkan harga karet dan sawit, buktikanlah janji itu dulu. Kalau harga karet naik, baru kami Naik Kelas,” kata Zuhril.

Ia menambahkan, sepengatahuan dirinya yang naik pada rezim Azis-Catur ini hanya jumlah Indomaret dan Alfamart.

“Apa dengan banyaknya toko modern seperti itu akan menaikkan ekonomi masyarakat ? yang pastinya saat ini Indomaret dan Alfamart hanya mematikan usaha-usaha kecil masyarakat,” ucap pemuda Salo Timur ini.

Penulis : Andesmen Putra
Editor : Fauzi Lalea

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here